• Hubungi Kami
  • (+62) 85 101 487 222 / (+62) 85 102 11 6363 / (+62) 89 657 30 6921

STRATEGI MANAJEMEN MASONRY DI MASA PANDEMI COVID-19

13 Mei 2020

STRATEGI MANAJEMEN MASONRY  DI MASA PANDEMI COVID-19

STRATEGI MANAJEMEN MASONRY

DI MASA PANDEMI COVID-19

 

                Sejak mewabahnya virus Corona di akhir tahun 2019, pariwisata Bali mulai terpukul. Dimulainya dengan para wisatawan China cancel semua kedatangan, diikuti dengan pulangnya sebagian besar turis asing dan domestik. Praktis ribuan hotel dan villa tutup opeasional dan merumahkan seluruh karyawannya hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Hal ini berimbas ke sektor bisnis lain, seperti wahana wisata, restoran, supplier bahan makanan, petani, nelayan, bisnis jasa sekuritas, percetakan, pelayanan, sekolah hingga yang dikelola oleh pemerintah.

                Pemerintah mengeluarkan aturan-aturan baru untuk menghambat penyebaran virus Covid-19. Beberapa ruas jalan protokol ditutup, lintas luar kota dibatasi, impor barang jadi terhambat. MASONRY yang bergerak di bidang distribusi material bangunan mengalami penurunan distribusi. Perusahaan juga membuat aturan-aturan baru menyikapi pandemi ini, antara lain :

  • Wajib bekerja mengenakan masker. Masker kain standar dibagikan 3 set
  • Harus rajin mencuci tangan
  • Ijin pulang kampung dilarang, kecuali sangat penting
  • Harus menjalani self quarantine minimal seminggu jika sempat pulang kampung atau keluar kota
  • Rajin mencuci kendaraan
  • Briefing pagi di halaman kantor
  • Physical distancing baik di kantor maupun di proyek
  • Jika ada gejala sakit mirip tanda-tanda Covid-19, harus lapor dan mengisolasi diri hingga ada kepastian sembuh
  • Mengatur aktivitas kantor yang lebih efektif agar tidak perlu tiap hari ke kantor
  • Sabtu libur
  • Pakaian kerja bebas rapi yang mudah dicuci, tidak perlu pakai seragam
  • Harus tetap di rumah jika tidak bekerja

Awal Maret 2020, adanya tanda-tanda principal mulai menaikkan harga produk impor karena US$ naik mencapai 20%, sedangkan omset perusahaan merosot. Para konsumen mulai susah ditagih, manajemen mengubah strategi menurunkan kredit plafon, bahkan harus dibayar lunas sebelum dikirim. Sebagian besar proyek terhenti, pimpinan segera mengadakan rapat bersama seluruh jajaran dan divisi. Duduk berdiskusi untuk mengambil langkah-langkah tepat ke depan agar perusahaan tetap bisa bertahan. Data cast flow diumumkan, penurunan data omset, rata-rata fix cost operasional. Pimpinan membuka pikiran melihat dari sudut pandang segala staff, begitu juga para staff untuk melihat dari sudut pandang pimpinan. Saat ini tidak mungkin untuk mengembangkan usaha, yang ada adalah bertahan untuk hidup. Kita yang sudah bekerja bersama selama ini, harus bisa bertahan bersama. Ini saatnya kita beristirahat sejenak, berhemat, dan mengencangkan ikat pinggang. Omset harus bisa menutupi fix cost. Beberapa fix cost sebelum pandemi bisa ditekan mencapai 30% karena pembatasan aktivitas kantor dan efektif hari kerja. Perusahaan menyiapkan mess darurat bagi staff yang kost selama ini, agar tinggal di mess, gratis. Para Staff juga harus menekan take home pay masing-masing. Jika keadaan semakin parah, terburuknya perusahaan akan tetap memberi kesediaan pangan sebagai pengganti gaji, karena perusahaan mungkin sudah tidak ada pemasukan. Gaji bulan Maret 2020 dipastikan cair full, THR Lebaran di April juga cair full. Komisi cair full. Gaji bulan April disesuaikan efektif aktivitas kerja. Lebih baik kita berpikir memposisikan diri pada situasi terburuk, jadi jika hal itu benar-benar terjadi, kita akan lebih siap mengatasi cobaan tersebut. Semua staff bebas mengeluarkan pendapat dan solusi ini adalah yang terbaik. Intinya, perusahaan berusaha untuk tidak merumahkan apalagi memberhentikan karyawan. Kami yang sudah men-training, tune in satu sama lain dengan team yang sudah bekerja cukup lama, karyawan adalah aset terpenting dalam perusahaan, berusaha untuk bertahan bersama. YOU CAN’T CONTROL EVERYTHING. Sometimes you just need to relax and have faith that things will work out. LET GO AND LET LIFE HAPPEN. Saatnya kita beristirahat sejenak..

Selanjutnya, tidak ada yang tahu kapan bencana ini akan berakhir. Semua prediksi dan dugaan para pakar kesehatan, pemerintah, meleset. Usaipun wabah ini, keadaan tidak bisa langsung pulih seperti sebelumnya. Kesehatan kita dan keluarga harus diutamakan, strategi manajemen mulai diubah. DO NOT AFRAID OF DYING. BE AFRAID OF NOT TO HAVE LIFED. Mulai belajar penggunaan tekhnologi, komunikasi dengan smartphone untuk video call, melakukan video conference, promosi di sosial media, browsing klien di search engine, follow up melalui aplikasi dan mengirim digital brochures, telemarketing, kirim sampel-sampel, sebisa mungkin tidak bertemu langsung. Mulai mencoba berjualan online. Kita tidak bisa menentang pandemi, tetapi bagaimana caranya berdamai dengannya. YOU CAN’T STOP THE WAVES. BUT YOU CAN LEARN HOW TO SURF. Bahkan dengan adanya tekhnologi, kini kita dimudahkan lebih bergerak secara luas, berkenalan dengan kostumer baru yang ada di luar pulau. Setting interior yang lebih berjarak duduknya, ruang meeting outdoor di halaman, disiapkan fasilitas video conference layar besar lengkap dengan speaker yang bisa digunakan untuk podcast, dll. Tidaklah semua hal mengarah ke yang negatif.

Badai ini pasti akan berlalu, di setiap akhir badai, selalu ada pelangi. Selama kita percaya, berusaha, dan berdoa, kita optimis bisa melaluinya. NOTHING LASTS FOREVER. NOT EVEN CORONA VIRUS. SO SPREAD TEAM-WORK INSTEAD OF PANIC.

WE BELIEVE WILL SURVIVE TOGETHER, AS LONG AS WE ON THE SAME VISION

 

THANK YOU TEAM